Cerita dewasa pembantuku yang bohai

23rd May 2013 | Cat: tante | 3653 Views |

Cerita dewasa pembantuku yang bohai- kali ini blog tante berbagi lagi tentang cerita dewasa terbaru yaitu sorang pembantu yang bahenol banget  . mantap banget deh pokoknya selamat membaca .

Aku punya pembantu tidur di rumahku. Ia adalah pembantu yang senang tidur-tiduran terlentang di lantai ruang keluargaku. Ia selalu begitu saat menonton televisi di sana. Aku tak pernah mengerti bagaimana gambar-gambar bergerak di layar kaca dapat terlihat lebih baik jika dilihat dari sudut miring dari bawah.

Sebelum cerita ini berlanjut, aku akan menceritakan dahulu bahwa aku tinggal di sebuah rumah sederhana bersama adikku. Rumah ini dibelikan orang tua kami karena kami bersekolah di ibukota, sementara mereka tinggal di kota lain. Karena kesibukan kami bersekolah dan kursus-kursus, mereka pun menggaji pembantu untuk membantu kami membersihkan, menata, dan menjaga rumah. Selebihnya, semua masalah keuangan kami serahkan pada orang tua kami. Teman ayah yang tinggal tidak jauh dari rumah kami juga sering membantu kami mengurus beberapa hal. Kami memang manja.

Kembali ke masalah pembantu, pembantu itu datang ke rumah kami sejak sebulan setelah kami menempati rumah itu. Ia datang sebagai jawaban dari orang tua kami setelah kami mengeluh tentang betapa repot, lelah, dan sulitnya mengatur waktu untuk membersihkan dan merapikan rumah.

Sekitar seminggu sejak ia bekerja di rumah kami, ia mulai menampakkan kebiasaan tidur-tiduran di lantai. Awalnya, ia hanya melakukan itu ketika menonton televisi bersama kami di ruang keluarga. Lama kelamaan, kami juga menemukannya melakukan hal itu di waktu-waktu luangnya. Ia melakukan itu di berbagai tempat. Di dapur, di depan kamar mandi, di ruang makan, di mana-mana. Mungkin ia bermaksud memperingatkan kami untuk menjaga kecepatan kami agar tidak terjadi kecelakaan karena kami selalu terburu-buru, tapi ia justru menimbulkan beberapa kecelakaan tersandung.

Belakangan, kami ketahui juga bahwa ia tidak pernah menggunakan kasur maupun ranjang untuk tidur. Hal itu kami ketahui setelah suatu hari aku membangunkannya pagi-pagi sekali karena hari itu aku harus berangkat sekolah lebih pagi. Aku bermaksud untuk memintanya membuatkanku sarapan. Saat kumasuk ke kamarnya yang kebetulan tak dikunci, kupergoki ia sedang tidur lelap di lantai di samping ranjangnya. Kupikir itu hal bodoh karena beberapa minggu kemudian, kami beberapa kali medengarnya mengeluh tentang tulang-tulangnya yang sakit.

***

Dulu, sebelum aku bekerja kepada dua majikan mudaku di ibukota, aku pernah tinggal di sebuah desa kecil. Aku hanya seorang gadis biasa. Tak bersekolah, tak bekerja, hanya membantu ibuku di dapur setiap hari.

Suatu hari, seusai memasak aku disuruh ibuku untuk mengantarkan seporsi sajian besar untuk sebuah keluarga yang anak lelakinya baru pulang dari ibukota. Kata orang, anaknya itu merantau ke ibukota untuk bekerja. Anak itu pulang membawa uang untuk kedua orang tuanya dan oleh-oleh untuk tetangga-tetangganya, termasuk keluargaku yang merupakan tetangga dan teman dekat keluarganya.

Saat aku sampai di rumah itu, aku disambut oleh seorang pria bertubuh tegap dengan kulit hitam dan wajah manis. Sikapnya berbeda dengan pria kebanyakan di desa ini. Kukira, dialah yang baru pulang merantau dari ibukota. Ia pun membantuku membawa masuk masakan yang memang diperuntukkan untuk menyambut kepulangan dirinya. Ia tampak sangat tertarik kepada masakan itu, dan juga kepadaku.

Sejak hari itu, setiap hari kami bertemu dan berbincang-bincang seusai aku menyelesaikan pekerjaanku di dapur. Makin lama, kami makin dekat dan makin akrab. Kedua orang tuaku dan orang tuanya pun telah mengetahui hal tersebut. Mereka pun mulai mendesak kami untuk mengadakan pernikahan.

Sayangnya, waktu berjalan terlalu cepat. Belum sempat kami membicarakan pernikahan, ia sudah harus kembali ke ibukota untuk mencari nafkah. Tentunya, aku dan keluargaku ingin agar pernikahan itu dilaksanakan dahulu. Aku pun ingin agar kelak aku ikut dengannya ke ibukota. Aku membicarakan hal itu kepadanya, tapi ia tidak setuju.

Sehari sebelum keberangkatannya, ia mengajakku untuk berjalan-jalan dengannya seharian sebagai tanda perpisahan kami. Perpisahan yang katanya hanya sementara. Ibuku mengizinkanku untuk pergi dengannya hari itu meskipun pekerjaan dapur akan lebih berat baginya tanpaku.

Setelah seharian bersama dengannya di sawah, di kebun, di warung, di bawah pohon, di mana-mana, dengan seribu kata cinta untukku, petang pun menyambut kami. Kurasa, itulah saatku untuk pulang. Ia telah naik ke atas sepedanya dan menungguku untuk naik ke boncengan di belakangnya. Aku pun naik.

Lama ia mengayuh, aku bingung, apakah rumahku begitu jauh atau desa itu memang bertambah luas di malam hari. Aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Jawabnya adalah bahwa ia belum berkata bahwa kami akan pulang. Aku pun bertanya kemana arah kita. Katanya, ke suatu tempat di mana kami akan bersenang-senang. Saat itu, hatiku mulai waswas, tapi aku diam.

Setelah lama lagi ia mengayuh, sampailah kami di hutan yang gelap dan penuh semak belukar dan pohon-pohon rindang. Tidak takutkah dia akan hantu-hantu yang berkeliaran di malam hari di antara pohon-pohon besar? Atau binatang-binatang liar yang bersembunyi di balik semak-semak? Ia menyalakan lampu teplok yang tergantung di sepedanya dengan korek api. Aku baru menyadari keberadaan lampu itu. Kemudian, ia mengangkat pegangan yang menggantung lampu itu dan menggandengku turun dari sepeda sampai ke tempat yang ia tuju. Aku pun mengikut saja.

Di sana telah ada tikar besar yang terbuka di bawah sebuah pohon yang dikelilingi semak-semak. Kukira, ia yang menyiapkan semua itu. Ia memintaku duduk di tikar itu. Lalu, ia menyusul duduk di sebelahku. Tanah di bawah tikar itu sangat keras dan dingin.

Untuk beberapa lama, ia membuaiku lagi dengan belaiannya di rambutku dan lagi-lagi kata-kata cinta yang menyusupi hatiku dengan cepat. Aku bahkan tak memikirkan lagi ibuku yang nantinya akan memarahiku karena pulang terlalu larut. Beberapa lama setelahnya, belaiannya telah ditambah dengan kecupan. Beberapa lama kemudian, belaiannya telah menjelajahi leherku, punggungku, pahaku, dadaku, selangkanganku, dan kecupannya telah berubah menjadi ciuman, lalu cumbuan. Aku pun mengikuti dan menikmati semua itu sampai ia selesai memerawaniku dan membuang cairannya ke rerumputan.

Lalu, ia menyatakan betapa menyenangkan dan nikmat semua yang baru kami lakukan diikuti dengan memuji keindahan tubuhku. Ia pun mengecup dadaku beberapa kali lagi sebelum kami merapikan pakaian kami masing-masing. Saat itu, aku sangat bahagia.

Aku mengungkapkan lagi keinginanku untuk mengikutinya ke ibukota, tapi ia menolak untuk membawaku. Aku menyatakan bahwa aku akan pergi sendiri dan membiayai diriku sendiri, tapi ia berkata bahwa hidup di sana tidak semudah yang kukira. Ia hanya bisa bekerja sebagai tukang ojek yang penghasilannya sangat pas-pasan untuk dirinya sendiri. Katanya, aku hanya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau tukang bersih-bersih. Itu semua karena kami tidak bersekolah tinggi. Di ibukota, hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus-bagus.

Aku mencoba menyangkal semua itu dengan kenyataan bahwa ia pulang dengan membawa uang cukup banyak untuk kedua orang tuanya dan banyak oleh-oleh untuk tentangga-tetangganya. Namun, ia mengelak semua itu dengan pernyataan bahwa itu semua hanya karena gengsi, sehingga ia harus banyak berhutang uang kepada beberapa orang untuk semua itu. Saat itu, aku putus asa.

Akhirnya, aku merelakannya untuk pergi. Aku memintanya untuk berjanji bahwa ia akan kembali lagi ke desa untuk menikahiku. Sayang sekali, ia tidak ingin menikahiku. Ia hanya ingin menikahi kekasihnya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di ibukota sana. Saat itu, aku terkejut dan sakit hati.

Ia mulai menjelaskan bahwa ia mempunyai seorang kekasih yang lebih cantik dariku di ibukota, tapi kekasihnya itu tidak ingin berhubungan seksual sebelum menikah. Ia jadi harus membayar pelacur-pelacur yang sangat murah untuk memuaskan hasratnya. Meskipun begitu, ia belum sanggup membayar pelacur baru yang masih perawan. Maka, ketika ia bertemu dengan diriku yang cantik dan pasti perawan karena gadis-gadis desa biasanya menjaga keperawanan, ia pun menginginkanku. Sungguh, aku tidak mau mendengar semua itu. Aku hanya ingin menangis.

*

Ia pergi ke ibukota. Beberapa hari setelah kepergiannya, aku kabur dari rumahku. Aku membawa bekal secukupnya untuk menyusulnya ke ibukota. Aku sangat beruntung bertemu dengan seorang teman lama sebelum sampai ke ibukota. Temanku itu bekerja di sebuah rumah mewah milik majikan kaya. Kebetulan, majikannya itu membutuhkan tenaga pembantu rumah tangga untuk anak-anaknya yang tinggal di ibukota. Aku pun dibayarnya untuk menjadi pembantu bagi anak-anaknya.

Sesampainya di rumah anak-anaknya, aku sangat senang. Aku tak pernah berpikir untuk menempati rumah yang besar dan indah meskipun bagi anak-anak majikan itu, rumah ini hanya rumah kecil yang sederhana. Aku pun senang karena anak-anak majikan itu ramah dan baik meskipun sangat sibuk. Mereka tidak jahat dan suka menyiksa pembantu seperti yang dikatakan teman-temanku di desa.

Beberapa hari bekerja di sana, aku pun memikirkan cara untuk mencari kekasihku. Aku mulai bertanya-tanya kepada orang-orang yang kutemui di luar rumah setiap kali aku bekesempatan untuk keluar rumah, seperti saat berbelanja ke pasar. Aku selalu kecewa karena tak ada seorang pun yang mengenal dia. Semakin aku kecewa, semakin aku merindukannya.

Semakin aku merindukannya, semakin aku merindukan kenikmatan darinya. Setiap kali aku merindukan itu, aku mencoba terlentang di lantai yang keras dan dingin seperti tanah berlapis tikar, meskipun lantai itu datar dan tanah itu berliku-liku. Di saat-saat itulah aku merasakan dirinya di atasku. Namun, semua itu tak pernah cukup.

Pada suatu hari libur, saat majikan-majikanku tidak sekolah atau pun kursus, aku mengungkapkan kesulitanku mencari kekasihku. Salah satu majikanku berkata bahwa ibukota ini tidak sekecil desa. Ibukota ini luas dan terdiri dari beberapa kabupaten. Aku harus tahu di kabupaten mana kekasihku berada. Tentunya aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa itu kabupaten.

***

Hanya tiga bulan pembantu itu bekerja di rumah ini. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke desanya. Padahal, ia belum menemukan orang yang ia cari-cari itu. Maka, kami pun harus mencari pembantu lain. Itu berarti, selama belum ada pembantu baru, kami harus membersihkan dan merapikan rumah sendiri, mencuci piring dan baju sendiri. Huh!